Gubernur Bank Indonesia Uraikan Langkah Penguatan Rupiah

TEMPO.CO, JakartaGubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjabarkan langkah bank sentral untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Ia menyatakan keyakinannya nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat.

“Cadangan devisa yang kami kumpulkan saat masuk, tidak segan-segan kami gunakan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Kami yakin rupiah akan stabil bahkan cenderung menguat,” kata Perry dalam konferensi pers online, Rabu, 21 Januari 2026, seperti dikutip Antara.

Keyakinannya juga didukung oleh kondisi fundamental perekonomian dalam negeri yang tetap baik, termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek perekonomian yang membaik.

Belakangan ini, nilai tukar rupiah sedang tertekan. Selasa lalu, rupiah berada di level Rp 16.945 per dolar AS, melemah 1,53 persen (point to point/ptp) dibandingkan akhir Desember 2025. Rabu kemarin, rupiah ditutup di level Rp 16.936 per dolar AS, menguat 20 poin atau 0,12 persen.

Lebih lanjut Perry menjelaskan, BI tidak segan-segan melakukan intervensi signifikan melalui pasar NDF (non-delivery forward) luar negeri, DNDF (domestic non-delivery forward), dan pasar spot.

Saat ini, kata dia, nilai tukar dipengaruhi oleh faktor global dan domestik. Beberapa faktor global antara lain dinamika geopolitik, kebijakan tarif AS, tingginya imbal hasil Treasury AS, dan ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih kecil.

Selain itu, kondisi lain menyebabkan dolar menguat dan capital outflow dari emerging market ke negara maju, termasuk Amerika Serikat. Pada tahun 2026 (per 19 Januari 2026), terjadi net outflow sebesar US$1,6 miliar, kata Perry.

Sementara itu, dari sisi domestik, Perry mencatat tingginya permintaan valas dari beberapa korporasi dan persepsi pasar terhadap kondisi fiskal. Selain itu, proses pencalonan Deputi Gubernur BI juga mempengaruhi persepsi pasar valuta asing.

Oleh karena itu, kami tegaskan bahwa proses pencalonan Deputi Gubernur telah sesuai dengan hukum dan tata kelola, dan tentunya tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia yang tetap profesional dan tata kelola yang kuat, kata Perry.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan, anjloknya nilai tukar tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga beberapa negara tetangga. Secara khusus, ia menyatakan bahwa depresiasi rupiah yang terjadi akhir-akhir ini semakin dalam, terutama disebabkan oleh persepsi pasar.

Oleh karena itu, kita perlu membalikkan persepsi tersebut dan menunjukkan bahwa kita masih relatif aman. Cadangan devisa kita juga masih sangat kuat yaitu US$156 miliar, kata Destry.

Destry menambahkan, bank sentral tidak hanya melakukan intervensi, tetapi juga mengoptimalkan operasi moneternya, baik melalui penggunaan SRBI (Standar Rupiah), jalur suku bunga, maupun upaya menjadikan aset rupiah lebih menarik dengan imbal hasil yang lebih menarik.

Salah satu inisiatif BI adalah terus memperkuat penggunaan transaksi mata uang lokal (LCT). Sejak Januari hingga Desember 2025, volume transaksi LCT meningkat signifikan. Pada akhir Desember 2025, nilai transaksi LCT mencapai US$25,66 miliar, meningkat tajam dibandingkan tahun 2024 sebesar US$12,5 miliar.

Ia menilai peningkatan penggunaan mata uang lokal selain dolar AS merupakan salah satu strategi Bank Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar.

BI juga mengembangkan pasar non dolar. Dalam sebulan terakhir, BI membuka pasar transaksi rupiah-yen Jepang dan rupiah-renminbi China (RMB) yang menunjukkan tren meningkat. Langkah ini dinilai penting karena berdasarkan data transaksi perbankan, BI mengamati masih banyak bank yang mensyaratkan RMB atau CNY, namun sebelumnya sudah melakukan transaksi dalam dolar AS.

Pola inilah, kata Destry, yang coba dibendung oleh Bank Indonesia. “Jadi ke depan, kami mendorong mereka yang membutuhkan CNY untuk juga aktif di pasar rupiah-CNY. Dan dalam hal ini, BI telah aktif memperdagangkan kedua mata uang tersebut dalam sebulan terakhir.”

Teuku Riefky, Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Sosial Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), sebelumnya menilai pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) akan memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dia mengatakan pencalonan Thomas kemungkinan besar akan mempengaruhi independensi BI.

Riefky menjelaskan, kepercayaan investor terhadap independensi BI mulai berkurang pada tahun lalu, ketika bank sentral terus memangkas suku bunga acuan meski ada tekanan rupiah, menerapkan skema pembagian beban dengan Kementerian Keuangan, dan menerapkan kebijakan suntikan likuiditas dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Hal ini juga terlihat dari berlanjutnya kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan keluarnya modal asing, kata Riefky saat ditemui di kantor Pusat Kajian Strategis dan Internasional di Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026.

Baca: Ketua Bank Indonesia Jelaskan Faktor Pelemahan Rupiah

Klik di sini untuk mendapatkan update berita terkini dari Tempo di Google News